BerandaBeritaMaulid Nabi di Majelis Dakwah Hamzanwadi II

Maulid Nabi di Majelis Dakwah Hamzanwadi II

Mataram – Ribuan jamaah Nahdlatul Wathan (NW) dari berbagai daerah memadati Majelis Dakwah Hamzanwadi II dalam rangkaian Pengajian dan Peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1448 Hijriah, Rabu (2/9/2026).

Majelis tersebut menjadi momentum kebersamaan bagi warga NW untuk mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah SAW melalui lantunan shalawat, pengajian, serta penguatan kembali nilai-nilai perjuangan, persatuan, akhlak, dan keilmuan.

Sejak rangkaian acara dimulai, suasana majelis dipenuhi jamaah yang hadir dari berbagai penjuru. Sejumlah tuan guru dan ulama turut menyampaikan tausiah, di antaranya TGH. Lalu Anas Hasyri dan Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, M.A.

Dalam tausiah, TGH. Lalu Anas Hasyri mengajak jamaah untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalani kehidupan. Menurutnya, kecintaan kepada Baginda Nabi tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan dan lantunan shalawat, tetapi juga harus tercermin dalam akhlak, adab, dan perilaku sehari-hari.

Ia juga mengingatkan pentingnya memahami persoalan agama dengan landasan ilmu dan merujuk kepada penjelasan para ulama. Perbedaan pandangan, menurutnya, merupakan sesuatu yang telah lama terjadi di kalangan ulama, namun tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling membenci dan bermusuhan.

Sementara itu, Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi Dahlan, M.A., menekankan pentingnya keberadaan para ulama dan masyaikh dalam menjaga kesinambungan perjuangan umat.

Menurutnya, perjuangan yang telah diwariskan oleh para pendahulu harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya. Karena itu, warga Nahdlatul Wathan diharapkan tetap menjaga kebersamaan dan memperkuat barisan dalam melanjutkan perjuangan organisasi.

Pesan penguatan tersebut kemudian menjadi semakin kuat dalam pengajian utama yang disampaikan oleh Sohibul Majelis, Maulanasyaikh Dr. TGKH. Lalu Gede Muhammad Zainuddin Atsani, Lc., M.Pd.I.

Di hadapan ribuan jamaah, Maulanasyaikh mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan bulan Maulid sebagai momentum memperbanyak rasa syukur dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Menurutnya, peringatan Maulid juga harus menjadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk melakukan perbaikan diri.

“Kalau kita kemarin kurang, mari kita perbaiki. Hidup itu kita harus perbaiki, perjuangan, hidup itu adalah perjuangan,” pesan Maulanasyaikh.

Maulanasyaikh mengingatkan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Karena itu, kecintaan kepada Nabi harus diwujudkan dengan menjaga adab, sopan santun, tata krama, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Selain itu, Maulanasyaikh juga mengajak jamaah untuk terus menghidupkan Shalawat Nahdlatain yang diajarkan oleh Pendiri Nahdlatul Wathan, Almagfurulah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Shalawat tersebut bukan sekadar lantunan, tetapi menjadi bagian dari doa dan harapan akan keselamatan, perlindungan, ampunan, serta keberkahan bagi umat.

Dalam kesempatan itu, Maulanasyaikh juga memberikan perhatian terhadap pentingnya menuntut ilmu, khususnya kepada generasi muda dan para pelajar. Beliau mengingatkan bahwa proses belajar tidak berhenti pada jenjang pendidikan tertentu.

“Belajar itu terus seumur hidup. Tidak ada kata cukup dalam belajar,” tegasnya.

Menjelang akhir tausiah, Maulanasyaikh mengajak seluruh warga NW untuk terus memperkuat persatuan dan kebersamaan dalam perjuangan.

“Mari kita sama-sama merapatkan barisan, perkuat barisan, memperbaiki diri kita. Harus mulai dari diri kita,” ajaknya.

Usai pengajian, jamaah melaksanakan Salat Magrib secara berjamaah. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan Mahallul Qiyam, di mana jamaah berdiri bersama sambil melantunkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Peringatan Maulid Nabi di Majelis Dakwah Hamzanwadi II bukan hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk memperbarui semangat perjuangan. Dari majelis itu, jamaah kembali diingatkan bahwa mencintai Rasulullah berarti berusaha meneladani akhlaknya, menuntut ilmu, memperbanyak shalawat, serta menjaga persatuan dalam melanjutkan perjuangan untuk agama, bangsa, dan Nahdlatul Wathan.

RELATED ARTICLES

Tinggalkan Balasan

Most Popular

Recent Comments