Lombok Timur — Pengurus Besar Nahdlatul Wathan (PBNW) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat nilai keimanan, ketakwaan, dan ukhuwah Islamiyah melalui agenda silaturahmi dan halal bihalal yang digelar pada 3 Syawal di wilayah Lombok Timur bagian utara. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Panitia yang tergabung dalam 5 Cabang NW pada 5 Kecamatan dipusatkan di Pondok Pesantren Zainuddin Atsani NW Pringgabaya.

Agenda tersebut menjadi bagian dari tradisi tahunan PBNW setiap bulan Syawal, yang tidak hanya dimaknai sebagai ajang saling memaafkan pasca-Ramadhan, tetapi juga sebagai sarana konsolidasi spiritual dan sosial jamaah Nahdlatul Wathan di berbagai wilayah. Kehadiran jamaah dari kecamatan Wanasaba, Pringgabaya, Suela, Sembalun, hingga Sambalia dan Jamaah dari kecamatan lain diwilayah Lombok Timur menunjukkan kuatnya ikatan emosional dan ideologis antarwarga organisasi.

Ketua panitia, Ust. Muhammad Nur Tahajjud, menyampaikan bahwa kegiatan ini memiliki nilai strategis dalam menjaga kesinambungan perjuangan organisasi. Menurutnya, silaturahmi Syawal bukan sekadar tradisi seremonial, tetapi menjadi ruang penguatan nilai-nilai keislaman, kebersamaan, serta loyalitas terhadap ajaran yang diwariskan para ulama Nahdlatul Wathan. “Momentum Syawal ini menjadi titik awal untuk memperbaharui komitmen keumatan, mempererat hubungan antarjamaah, serta memperkuat nilai taqwa dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Kegiatan ini semakin bermakna dengan kehadiran zurriyat Maulanassyaikh bersama Ummuna Al Mujahidah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid selaku Ro’is ‘am Dewan Musytasyar PBNW sekaligus bije (Anak-red.) dari Pendiri NW Maulanasyaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Madjid. Kehadiran tokoh sentral tersebut dinilai menjadi simbol kesinambungan sanad keilmuan dan perjuangan Nahdlatul Wathan, sekaligus memberikan motivasi moral bagi jamaah untuk tetap istiqamah dalam beragama dan berorganisasi.

Dalam perspektif sosial-keagamaan, kegiatan ini juga berfungsi sebagai media konsolidasi internal organisasi di tingkat cabang. Interaksi langsung antarjamaah dari berbagai kecamatan memperkuat koordinasi, memperluas jaringan komunikasi, serta menyatukan visi dalam menjalankan program-program dakwah dan pendidikan ke depan.

Selain itu, halal bihalal yang menjadi bagian utama acara mengandung makna rekonsiliasi sosial. Tradisi ini mendorong penyelesaian potensi konflik, mempererat hubungan personal, serta membangun harmoni di tengah masyarakat. Dalam konteks organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Wathan, nilai ini menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan gerakan dakwah.

Pelaksanaan kegiatan di Pondok Pesantren Zainuddin Atsani NW Pringgabaya juga mempertegas peran pesantren sebagai pusat pembinaan umat, tidak hanya dalam aspek pendidikan formal, tetapi juga dalam penguatan nilai spiritual dan sosial masyarakat.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PBNW menunjukkan bahwa momentum Syawal tidak hanya dimanfaatkan sebagai tradisi tahunan, tetapi sebagai instrumen strategis dalam memperkuat identitas keagamaan, solidaritas organisasi, serta kualitas keimanan jamaah secara berkelanjutan.(red.)

Tinggalkan komentar